September 8, 2016

Al Anwar- Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal?

Al Anwar- Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal? dalam era perkembangan zaman yang serba elektronik, semua harus berani melangkah untuk mengikuti serta jangan sampai keterbelakangan dengan yang ada.

Al Anwar- Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal?



Media merupakan suatu alat yang mempunyai peranan penting dalam upaya penyampaian suatu informasi ke masyarakat secara luas. Apabila seseorang mampu menguasai media maka dia mampu menguasai dunia. Kenapa bisa demikian?
 

Ini tak lain karena ketika media berhasil dikuasai, maka informasi yang tersebar luas akan mampu untuk disetir dan penyebarannya bisa sesuai kehendak. Parahnya, saat ini yang menguasai media ialah kaum kapitalis. Pergeseran pola pikir masyarakat yang kerap digiring berbagai media dari pencarian berita berisi fakta berganti menuju berita berisi sensasi sehingga muncullah berbagai macam program infotainment yang tak lain adalah pengejawentahan dari pengaruh kapitalisme.
 

Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal?

Di sisi lain, perkembangan media saat ini cenderung terus berkembang tak terkendali, mulai media televisi, radio, koran, ataupun yang berkaitan dengan dunia maya. Yang cukup mengundang perhatian khalayak dewasa ini adalah dunia maya, berbagai inovasi teknologi terus bermunculan tiada henti dalam sektor ini, sehingga memberi akibat munculnya media-media baru yang masih belum sempat tergarap oleh beberapa kalangan, sehingga menjadi PR yang harus diatasi setiap saat karena setiap media mempunyai ruang lingkup tersendiri. 

Kalangan muslim sendiri diharapkan turut serta me-manage segala informasi yang berkaitan dengan islam sehingga penilaian akan islam tidak mengalami pergeseran makna.

Adalah hal yang miris ketika kita melakukan googling dengan menggunakan keyword kata "islam" atau "hal-hal yang identik dengan islam" semisal muharram akan tetapi yang kita dapati adalah kenyatan bahwa islam yang nampak adalah islam yang dianggap teroris, penuh anarkis, suka membid'ahkan, menyalahkan ulama' salafus shalih dan ritual-ritual yang kontroversi seperti ritual syi'ah di irak.
 


Hal remeh seperti ini bisa memberi pengaruh, sebab saat ini masyarakat awam lebih mudah tergiring dengan adanya trending topic yang bisa ditimbulkan oleh provokasi pihak tertentu, belum lagi permasalahan ketika seseorang tidak mengerti akan suatu permasalahan (khususnya masalah keagamaan) bukannya meminta penjelasan langsung kepada ahlinya akan tetapi mereka lebih memilih googling di dunia maya dengan perangkat keyword seadanya, padahal kita mengetahui sendiri fungsi penggunaan keyword tidaklah maksimal dalam penelusuran.
 


Sering dari kaum awam terjebak oleh istilah-istilah tertentu yang secara dzahiriyyah memiliki penilaian baik yang digunakan oleh situs-situs aliran seperti wahhabi dan syi’ah, semisal kata konsultasi syari’ah serta kajian-kajian syari'ah islam yang dinisbatkan kepada orang-orang bergelar intelektual tertentu (Al-Imam, Al-Mujaddid, As-Syaikh, Ustadz ataupun gelar kesarjanaan seperti Lc) padahal nama-nama tersebut tak lain adalah pembesar dari golongan tersebut. Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal?

Yang cukup mengernyitkan dahi adalah adanya sebagian kaum santri (karena yang mereka ketahui gelar syaikh hanya diberikan kepada orang berilmu agama tinggi dan sebagainya) yang sering kali silau dengan gelar-gelar tersebut tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa sebenarnya mereka dan kapasitas keilmuannya serta sepak terjangnya apakah bisa diakui atau tidak, sehingga mereka kerap menukil ataupun copas dari artikel-artikel milik situs golongan tersebut karena mereka berfikir bahwa “inilah yang kucari”.
 

Jika kaum muslim terus diam akan hal ini, maka lama kelamaan hal ini akan menjadi penilaian yang permanen dan sulit hilang terutama bagi orang awam. Ada baiknya jika sebagian kaum muslim mulai melek iptek dan berusaha memberi klarifikasi atas berbagai hal yang bertentangan dengan nilai islam di berbagai media yang tersedia. Ada pepatah:

من ازداد خشوعا ازداد جهلا
 

"Barangsiapa semakin khusyu' (dalam artian menolak mentah-mentah pengetahuan teknologi dan informatika serta menganggapnya sebagai hal yang tidak perlu dipelajari) maka dia akan semakin bodoh (ketinggalan zaman)"
Hal ini selaras dengan maqolah lain yang mengatakan: “Seorang itu (baru bisa dianggap) berakal jika dia mengenal (perkembangan dan perubahan) zamannya”
Hanya saja saat ini kita terkendala dengan wadah konkrit untuk merealisasikannya. Masalah dana dan donasi kerap kali menjadi ganjalan demi membentuk wadah tersebut. 

Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal?

Seumpama saja kita saling bahu membahu dan bergerak bersama-sama mengingat pentingnya hal ini. Ingatlah bahwa lawan yang kita hadapi didanai oleh kaum barat demi merusak islam dari dalam (bahkan bermuara dari pusat islam). Jadi tak ada alasan bagi kita untuk menggelontorkan segenap kemampuan kita entah berupa kemampuan menulis, menyebarkan ataupun sekedar mendanai demi tercapainya al-maqsud al-a'dzam kita ini. Sehingga amar ma'ruf nahi mungkar terlaksana di berbagai lingkup masyarakat.
 

Para kiai, santri ataupun orang-orang yang berkompeten dalam urusan syari'at islam harus menggiatkan syi'ar dakwah di dua dimensi: dunia nyata sebagai perwujudan riil dan dunia maya sebagai bentuk kebutuhan mendesak untuk meluruskan berbagai pemahaman yang menyimpang atau telah disalah artikan oleh beberapa pihak.
 


Mengepakkan sayap dan mengembangkannya lebar-lebar dalam urusan syi'ar ahlussunnah wal jama'ah yang sesungguhnya adalah sebuah keharusan mengingat Jam'iyah Nahdlotul Ulama' sebagai figur yang mewakili kaum sunni di Indonesia mulai tergerus oleh sikap lebih mengedepankan pemikiran liberal dan plural dalam urusan agama yang dilakukan oleh sebagian pembesar dari jam'iyah tersebut. Hal lebih indah dan elegan justru muncul dari kelompok minoritas sunni seperti NU garis lurus yang digawangi oleh Ad-Da'i ilallah Ustadz H. Luthfi Bashori di blog beliau www.pejuangislam.com yang cukup kritis terhadap segala paham yang disalah artikan tentang islam, begitu pula terhadap kinerja NU yang mulai lemah dan lesu dalam menegakkan nilai-nilai sunni di Indonesia. Sebuah oase penghilang dahaga akan perwujudan islam kaffah sangat dinantikan dalam bentuk-bentuk lain di media-media yang baru muncul di setiap perubahan dinamika masyarakat yang tak kunjung ada hentinya akibat perkembangan teknologi yang terus bermetamorfosis dari masa ke masa.
 


Ada baiknya kita memunculkan sebuah gebrakan yang nantinya mendorong setiap kaum muslimin dimanapun untuk berusaha membangkitkan media islam di tengah hiruk pikuk media-media non-agama yang berlomba menguasai era globalisasi ini. Kita bisa merambah berbagai media dan menyatukan visi berjuang untuk kebaikan islam demi menjaga keutuhan islam dari penggerogotan moral kapitalisme dan materialisme yang sedang marak dipasarkan di berbagai media saat ini. 

Budaya hedonisme sudah selayaknya kita perangi dengan mewujudkan berbagai media islam yang santun dan bermartabat sehingga membuat islam kembali disegani sebagai agama dengan ajaran yang ditujukan untuk seluruh alam semesta.
 

Kalaupun pada akhirnya tetap gagal terwujud, kita jangan menyerah dan terus mengobarkan semangat kita dalam syi'ar islam ahlussunnah wal jama'ah melalui website, blog ataupun facebook kita masing-masing. 

Mari kita penuhi daftar pencarian google dengan berbagai situs kita sehingga islam bisa kembali kepada jalurnya sebagai islam kaffah "ahlussunnah wal jama'ah" yang rahmatan lil 'alamin sehingga lama-kelamaan penyebar informasi-informasi yang tidak sesuai kenyataan akan terkikis dan lenyap dengan sendirinya.
 

Tolak Ukur Keberhasilan Sebuah wacana jika berhasil diwujudkan maka itu sudah merupakan modal awal dari sebuah keberhasilan. Meski untuk mencapai keberhasilan tersebut masih butuh ribuan langkah yang ditempuh agar bisa tercapai.
 

Jadi tak perlu takut usaha kita sia-sia atau cuma numpang lewat saja, yakinlah bahwa kadar sebuah kesuksesan itu tergantung dari usaha yang ditempuhnya. Jiks cukup berat jalan yang kita lalui maka bersiaplah untuk menuai hasil yang insya allah lebih dari yang kita perkirakan dan jangan lupa pula pahala yang sudah dijanjikan Allah kepada para pejuang islam.
Semakin kita luwes dalam berdakwah islam maka capaian kita akan berlipat-lipat sesuai jalan yang kita lalui dan media islam akan mempunyai tempat tersendiri di hati pemirsanya kelak.


Jadi, masih berani melangkah maju atau mau terus-menerus tertinggal?

Demikian sobat sedikit coretan Berani Melangkah Maju Atau Semakin Tertinggal? ini, semoga bermanfaat.
sumberr:
ppalanwar.com