September 7, 2016

Al Anwar - Hikmah, Dunia, kawan atau lawan?

Al Anwar - Hikmah, Dunia, kawan atau lawan? Pondok Pesantren Al Anwar sarang Rembang. KH. Muhammad Wafi, Lc, M.Si..hanya sekedar sebagai pengingat tentang pengertian hikmah, kisah hikmah islam, arti hikmah, hikmah puasa senin kamis, ilmu hikmah, kata hikmah, hikmah puasa, lagu hikmah. yang untuk memudahkan kita pada masa depan anak kita untuk dikan referensi belajar.

Al Anwar - Hikmah, Dunia, kawan atau lawan?


Al Anwar - Hikmah, Dunia, kawan atau lawan?


لو أشرق لك نور اليقين لرأيت الأخرة أقرب إليك من أن ترحل إليها و لرأيت محاسن الدنيا قدظهرت كسفة الفناء عليها

“Jikalau nurul yaqin bersinar terang benderang dihadapanmu, engkau akan mengerti bahwa akhirat itu sangat dekat, seakan-akan lebih dekat daripada perjalanan yang harus kau tempuh untuk mencapainya, dan engkau akan meyakini bahwasanya keindahan dan kemewahan dunia itu akan segera sirna secepat gerhana.”

A. Nurul yaqin

Nurul yaqin adalah sebuah cahaya yang menjadikan seorang hamba melihat berbagai perkara sesuai dengan hakikat sebenarnya. Ketika nurul yaqin menyinari hati seseorang hamba, maka ia akan melihat akhirat selalu hadir di depan mata, begitu dekat dan amat jelas. Ia akan melihat dunia ini begitu redup, makin menghilang dan segera lenyap dari pandangan mata. Akhirnya ia akan semakin meningkatkan takwa dan zuhudnya, dalam kehidupan sehari-hari.ia akan selalu menyiapkan bekal untuk hidup di akhirat kelak. Dunianya senantiasa terpenuhi berbagai macam kebajikan. Tak pernah terbesit sedikitpun keinginan untuk memenuhi ajakan-ajakan nafsu dan syaithan yang terkutuk.

"قال النبي صلى الله عليه وسلم : إن النورإذا دخل القلب انشرح له الصدر وانفتح قيل يارسول الله هل لذالك علامة يعرف بها قال نعم التجافى عن دارالغرور والإنابة إلى دارالخلود والإستعداد للموت قبل نزوله" أو كما قال

“Sesungguhnya nur yang masuk ke dalam hati akan menjadikannya benar-benar lapang dan terbuka. Dikatakan, “ya Rasulullah, apakah hal tersebut memiliki tanda-tanda yang bisa diketahui?” Rasulullah menjawab: “Ya, menjauhi dunia tempat kerusakan dan kembali menuju akhirat yang abadi serta bersiap sedia menyambut kematian sebelum ajal tiba.”

Keyakinan akan akhirat dengan segala macam pertistiwa yang menyertainya merupakan suatu hal yang dimiliki tiap-tiap muslim yang tulus menyerah kepada-Nya. Jika keyakinan ini hilang atau sekedar menurunkan sedikit saja sampai ke derajat persangkaan yang kuat, maka hal ini berarti ia telah keluar dari lingkaran keimanan.

Dengan anugerah-Nya, Allah swt menerbitkan cahaya (nur) yang kadarnya berbeda-beda antara seorang muslim dengan yang lainnya sesuai keadaan dan derajatnya masing-masing. Pengaruh yang ditimbulkan nur ini yaitu menjadikan keyakinan tentang akhirat seakan-akan sebuah peristiwa yang sedang terjadi dan sangat nyata.

Adapun jalan untuk sampai kepada nurul yaqin adalah dengan cara memperbanyak dzikir kepada Allah SWT, untuk mengendalikan hawa nafsu dan melawan bujuk rayu syithan yang selalu menipu.

B. Dunia, kawan atau lawan?

Telah banyak penjelasan-penjelasan Allah mengenai hal ihwal akhirat. Melalui firman suci-Nya, lewat sabda Rasul Saw, ataupun dengan lantaran peristiwa-peristiwa yang kita saksikan dan kita alami dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tak lain karena kehidupan dunia yang mempermainkan nafsu dan menyibukkan pikiran serta angan-angan mereka. Mereka enggan berfikir tentang akhirat yang hanya menimbulkan kekuatan dan kekhawatiran. Mereka beranggapan bahwa akhirat hanya bisa dicapai melalui jalan terjal, licin dan sulit serta tak ada kesenangan apa-apa di dalamnya. Maha benar Allah yang berfirman:

إنا جعلنا ما على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا [ الكهف : 8]

“Seungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.”(QS. Al Kahfi : 8)

Akhirnya sekat-sekat nafsu dan fikiran semakin menumpuk dan menutupi mata hati dan jiwa, melalaikan kehidupan akhirat. Bahkan beberapa orang diantara mereka lupa dan sama sekali tak ingat akan kehidupan abadi yang sejati. Mereka hanya mengerahkan perhatiannya untuk kehidupan dunia dengan melalaikan atau pura-pura lalai akan kehidupan akhirat. Lalu bagaimana cara kita menghancurkan atau menyingkirkan sekat-sekat yang membatasi pandangan kita untuk melihat akhirat?

Keinginan untuk menghilangkan sekat duniawi dari depan mata adalah sesuatu angan-angan kosong yang tidak akan terlaksana. Karena kebiasaan atau sunnatullah memang telah berlaku sejak dahulu dengan memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya berupa perhiasan dan kemewahan kehidupan dunia. Bukankah Allah SWT telah berfirman:

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطيرالمقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المئاب [ ال عمران: 14]

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imron:14).

Namun kita tidak perlu bimbang karena masih ada jalan untuk mengatasi sekat duniawi ini yaitu dengan cara merubahnya menjadi sebuah sekat yang seperti kaca tipis dan bersih serta tembus pandang sehingga kita mampu melihat apa yang dibalik sekat itu. Tak lain jalan tersebut adalah mengerjakan hal-hal yang menyebabkan berkembang dan bertambahnya kadar kekuatan pancaran nurul yaqin. Dan semua itu berujung kepada dzikrullah dan muroqobah kepada-Nya.

Sebenarnya dunia dengan segala macam keindahan dan kemewahannya mempunyai dua pengaruh yang bertolak belakang. Pertama, ia bisa menjadi sekat penghalang antara seorang hamba dan kehidupan akhiratnya. Kedua, ia juga bisa menjadi perantara yang mengingatkan seorang hamba akan kehidupan abadinya. Seseorang yang bergelut dengan kehidupan dunia dalam keadaan ia lupa akan Allah, maka mata hatinya tertutup dan tidak akan mampu mengetahui kehidupan akhirat yang akan ia jalani.

Sedangkan seorang hamba yang berkecimpung dengan dunia namun ia selalu mengingat Allah dan segala aturan dan nasihat-Nya, maka ia akan mengerti bahwa dunia ini hanyalah ruang penghubung untuk menuju akhirat. Dunia hanyalah sebuah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan utama. Seseorang yang baru pulang dari perjalanan dalam keadaan begitu rindu dengan keluarganya di rumah, apakah ia hanya berhenti di pintu rumahnya dan bersenang-senang disitu, kemudian apakah ia tidak meneruskan langkahnya agar sampai di dalam rumah supaya berjumpa dan bersuka ria dengan keluarga yang ia rindukan itu?.

Al Anwar - Hikmah, Dunia, kawan atau lawan?


Begitulah, seorang hamba yang senantiasa memelihara hatinya untuk mengingat Allah SWT, maka ia selalu melihat akhirat di sela-sela kehidupan dunia yang ia geluti. Ketika ia melayangkan pandangan ke langit menatapi bintang-bintang yang berkelipan, maka yang ia saksikan hanyalah kebenaran akan adanya kehidupan abadi dan kekal. Dunia yang ia pikirkan dan ia geluti, keindahan dan kemegahan yang ia lihat, elok dan merdu suara-suara dunia yang ia dengar, semuanya hanya mengingatkannya bahwa setelah ini masih ada kehidupan hakiki, kehidupan sejati yang amat berbahaya dan begitu sulit untuk dilalui. Akhirnya ia berdoa :

ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار.ربنا إنك من تدخل النار فقد أخزيته وما للظالمين من أنصار.ربنا إننا سمعنا مناديا ينادى للإيمان أن ءامنوا بربكم فئامن ربنا فاغفرلنا ذنوبنا و كفرعنا سيئاتنا وتوفنا مع الأبرار.ربنا وءاتنا ما وعدتنا على رسلك ولاتخزنا يوم القيامة إنك لاتخلف الميعاد [ال عمران : 191-194]

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS. Ali Imron: 191-194)

Bagi seorang hamba yang memperoleh anugerah Allah SWT, kadang-kadang ia melihat dunia ini bagaikan cermin dari kehidupan akhirat. Ketika ia mengamati, maka ia tahu bahwa dunia ini diliputi oleh kesirnaan, tak ada kesenangan dan kenikmatan yang abadi di dalamnya. Segala sesuatu yang dicintai manusia di dunia ini mengalami tahapan-tahapan yang seirama, diawali dari tunas kecil yang tumbuh menelusuri waktu, kemudian merekah dan menampakkan keindahan, lalu akhirnya layu dan lenyaplah keelokan dan keindahan yang dahulu melekat kepadanya. Hanya tinggal nama yang berada dalam lamunan dan angan-angan. Tiga tahapan tersebut merupakan watak dasar yang menjadi ciri khas perkara-perkara duniawi.

Dalam tiap fase yang dilalui, ia selalu mendendangkan lagu-lagu kefanaan dan kesirnaan, baik ketika baru muncul berupa tunas kecil, atau ketika telah mencapai dan menampakkan keindahan serta menebarkan semerbak wangi ataupun ketika ia telah gugur dan hilang tinggal sebuah nama dengan berjuang di jalan Allah SWT.

Dunia ini hanya menghadirkan fatamorgana semu di depan mata, namun menutupi dan menjauhkan minuman segar yang hakiki dari pandangan kita. Maha benar Allah yang telah berfirman :

اعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر فى الأموال والأولاد...[ الحديد : 20]

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al Hadid : 20)

Dalam ayat suci tersebut, Allah menyuruh kita untuk memahami sebuah ilmu yang amat berharga. Ilmu yang tidak bisa didapatkan kecuali oleh orang-orang yang telah disinari nurul yaqin. 


Orang-orang yang tidak menghentikan perjalanannya ketika telah sampai ke derajat yaqin. Salah seorang shahabat yan mendapatkan anugerah berupa nurul yaqin adalah Al Harits ibn Malik Al Anshory RA. Apa yang dialaminya bisa kita ketahui dengan jelas melalui percakapannya dengan Rasulullah SAW berikut :

قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف أصبحت ياحارث؟ قال له حارث أصبحت مؤمنا حقا قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم انظر ماتقول فإن لكل شيء حقيقة فما حقيقة إيمانك. قال حارث عزفت نفسي عن الدنيا فأسهرت ليلي وأظمأت نهاري وكأني أنظر إلى عرش ربي بارزا وكأني أنظر إلى أهل الجنة يتزاورون فيها وكأني أنظر إلى أهل النار يتضاغون فيها. قال له رسول الله: يا حارث عرفت فلزم، وفي رواية عبد نورالله قلبه – أو كما قال
“Rasulullah bertanya kepada Harits : “Wahai Harits, bagaimana keadaanmu pagi ini?” Harits menjawab : “Aku memasuki pagi ini benar-benar panuh keimanan”. Rasul saw kembali bertanya : “Lihatlah perkataanmu, sesungguhnya setiap sesuatu pasti mempunyai hakihat. Apa sebenarnya hakikat keimananmu?”. Harits menjawab : “Aku menyingkirkan dunia dari dalam hatiku, kuhidupkan malam-malamku dan kulaparkan siang hariku.


seakan-akan aku menyaksikan singgasana Tuhanku. Seolah-olah aku melihat penduduk surga saling mengunjungi satu sama lain dan aku mengamati penduduk neraka saling mendengki satu dengan yang lain.” Rasul bersabda : “Hai Harits, engkau telah menaklukkan dunia, maka pertahankan semua ini.” Dalam riwayat lain : “Cahaya Allah telah meleka erat dalam hatinya.”

Sekian dulu sobat sedikit berbagi tentang Al Anwar - Hikmah, Dunia, kawan atau lawan? ini, semoga bermanfaat untuk dijadikan referensi anak kita dimasa yang akan datang.

Sumber :
ppalanwar.com